Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Distan Kalbar Dorong Peran Pesantren dan Generasi Muda dalam Sektor Pertanian

Foto. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Kalimantan Barat, Herti Herawati, (Dok. Istimewa)

INFOWARGEPONTIANAK.COM, KUBU RAYA- Sektor pertanian di Kalimantan Barat menghadapi tantangan serius yang tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut regenerasi petani.

Di tengah ketersediaan lahan yang masih luas dan potensial untuk digarap, minat masyarakat, terutama generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian justru cenderung menurun.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Kalimantan Barat, Herti Herawati, dalam sebuah kegiatan halal bihalal yang dihadiri para penggiat pertanian di sebuah pondok pesantren di wilayah Kubu Raya.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Hiduplah Tanahku, Hiduplah Negeriku”, yang mencerminkan pentingnya peran tanah dan pertanian dalam keberlangsungan hidup masyarakat.

Menurut Herti, kondisi saat ini menunjukkan adanya ketimpangan antara luas lahan yang tersedia dengan jumlah petani aktif yang mengelolanya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian di daerah.

“ Potensi lahan kita sangat besar, bahkan masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, jumlah orang yang mau mengelola lahan tersebut justru semakin sedikit. Ini menjadi perhatian utama kami,” ujarnya.

Fenomena ini tidak lepas dari perubahan pola pikir masyarakat, khususnya generasi muda yang cenderung lebih tertarik bekerja di sektor non-pertanian.

Pertanian masih sering dipandang sebagai pekerjaan yang berat, kurang menjanjikan, dan tidak memiliki prospek yang cerah. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan modern dan berbasis teknologi, sektor ini memiliki peluang ekonomi yang sangat besar.

Lebih lanjut, Herti menyoroti pentingnya komoditas hortikultura, seperti cabai, yang memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi daerah. Fluktuasi harga cabai kerap menjadi salah satu faktor pemicu inflasi di Kalimantan Barat.

“ Cabai bukan sekadar komoditas biasa. Ketika produksinya terganggu, harga bisa melonjak drastis dan langsung mempengaruhi inflasi. Karena itu, kita perlu memperkuat budidaya cabai sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi sekaligus ketahanan pangan,” jelasnya.

Dalam upaya mengatasi rendahnya minat bertani, Dinas TPH Kalbar tidak hanya mengandalkan pendekatan konvensional, tetapi juga mulai menggandeng berbagai elemen masyarakat.

Salah satu langkah strategis yang diambil adalah melibatkan lembaga pendidikan keagamaan, seperti pondok pesantren.

Pesantren dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan sektor pertanian. Selain memiliki sumber daya manusia dalam jumlah besar, pesantren juga memiliki lahan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

“ Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Dengan mengembangkan pertanian di lingkungan pesantren, para santri bisa mendapatkan keterampilan tambahan yang bermanfaat untuk masa depan mereka,” ungkap Herti.

Program pertanian berbasis pesantren ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membentuk kemandirian ekonomi di kalangan santri.

Dengan keterampilan bertani, para lulusan pesantren diharapkan tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Selain itu, pendekatan ini juga dinilai efektif dalam mengubah stigma terhadap pertanian. Ketika generasi muda melihat bahwa pertanian bisa dilakukan secara modern, menghasilkan keuntungan, dan bahkan menjadi bagian dari gaya hidup produktif, maka minat untuk terjun ke sektor ini diharapkan akan meningkat.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Dinas TPH Kalbar berkomitmen untuk memberikan berbagai fasilitas kepada pihak-pihak yang ingin mengembangkan pertanian.

Bantuan tersebut mencakup penyediaan bibit unggul, pelatihan teknis, hingga pendampingan dalam proses budidaya.

“ Kami tidak hanya mengajak, tetapi juga siap memfasilitasi. Mulai dari bibit hingga pendampingan, semua akan kami bantu agar masyarakat lebih percaya diri untuk memulai usaha di bidang pertanian,” tegasnya.

Namun, upaya ini tentu tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Kolaborasi ini penting agar program yang dijalankan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu memberikan dampak jangka panjang.

Di sisi lain, transformasi digital juga menjadi salah satu kunci dalam menarik minat generasi muda. Pemanfaatan teknologi seperti pertanian berbasis IoT (Internet of Things), sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace dapat membuat sektor pertanian lebih menarik dan kompetitif.

Bayangkan seorang petani muda yang tidak lagi bekerja secara tradisional, tetapi menggunakan aplikasi untuk memantau kondisi tanah, mengatur penyiraman, hingga menjual hasil panen secara online. Model pertanian seperti inilah yang perlu diperkenalkan agar sektor ini mampu bersaing di era modern.

Selain itu, penting juga untuk memberikan edukasi sejak dini mengenai pentingnya pertanian. Kurikulum berbasis praktik, seperti kebun sekolah atau program magang di sektor pertanian, dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat generasi muda.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan sektor pertanian di Kalimantan Barat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang pesat. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan sebagai industri modern yang memiliki peran strategis dalam perekonomian.

Ke depan, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari sejauh mana sektor ini mampu menarik minat generasi baru untuk terlibat. Tanpa regenerasi petani, keberlanjutan sektor ini akan sulit terjaga.

Melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan yang tepat, Kalimantan Barat memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu daerah yang unggul dalam sektor pertanian. Tidak hanya sebagai lumbung pangan, tetapi juga sebagai pusat inovasi pertanian yang mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pertanian bukan sekadar soal menanam dan memanen. Lebih dari itu, pertanian adalah tentang menjaga keberlangsungan hidup, memperkuat ekonomi, dan memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki sumber pangan yang cukup.

Dengan semangat kebersamaan, harapan untuk menghidupkan kembali minat bertani di Kalimantan Barat bukanlah hal yang mustahil.

Share: